• Dipublish Oleh: admin kominfo
  • Dipublish Pada: January 20, 2026

Gubernur PBD Ajak ICMI Bersinergi Wujudkan Pembangunan Berkelanjutan

SORONG-Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu menegaskan pentingnya peran intelektual Muslim dalam menjaga nilai moral, memperkuat persatuan, serta berkontribusi nyata bagi percepatan pembangunan daerah. Hal ini disampaikannya saat membuka Rapat Kerja Wilayah Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Papua Barat Daya di Hotel Alya Sorong, Selasa (20/1/2025).

Rapat kerja ini mengusung tema “Sinergitas Cendekiawan Muslim Papua Barat Daya dalam Mewujudkan Pembangunan Daerah yang Berkelanjutan” dinilai sebagai forum strategis untuk merumuskan gagasan kolektif menghadapi tantangan pembangunan, khususnya memasuki tahun 2026.

“Kita berdoa agar diberi kesehatan, kemampuan, dan hikmah untuk menghadapi tahun yang penuh tantangan. Dengan iman dan kebersamaan, kita percaya Tuhan berjalan bersama kita,” ujar Elisa Kambu.

Gubernur mengapresiasi kehadiran ICMI di Papua Barat Daya sebagai wadah intelektual Muslim yang memiliki tanggung jawab moral untuk memberi kemaslahatan bagi umat dan masyarakat luas.

“Pengetahuan harus dilandasi iman yang kuat. Tanpa itu, ilmu bisa disalahgunakan dan justru membahayakan banyak orang,” tegasnya.

Ia menegaskan rapat kerja ini bukan ajang kepentingan individu maupun kelompok, melainkan forum musyawarah mufakat untuk melahirkan keputusan strategis yang berdampak nyata bagi pembangunan daerah.

“Apa pun kebijakan yang lahir harus membawa manusia ke arah yang lebih baik,” katanya.

Elisa Kambu juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap masyarakat asli Papua, termasuk Muslim Papua yang masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi, seperti di wilayah Kokoda dan daerah lainnya.

“Kehadiran kita harus memberi dampak bagi masyarakat lokal. Memberi akses dan kesempatan adalah kewajiban kita,” ujarnya.

Di akhir sambutan, Gubernur mengajak seluruh intelektual Muslim untuk terus bersinergi membangun Papua Barat Daya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Indonesia.

“Indonesia belum bisa disebut maju jika Papua belum mengalami perubahan,” pungkasnya.